Ketua RW Akui Insentif Rp 1 Juta sudah Dijalankan di Pemerintahan Danny Pomanto

Foto:Ketua RW Kelurahan Gaddong Bontoala, Dr Ansar Makkuasa SH MH.

SULSELNET.COM, MAKASSAR — Program Sembilan Indikator yang digagas Mantan Wali Kota Makassar, Ir Moh Ramdhan “Danny” Pomanto yang menjadikan RT RW ujung tombak dalam pembangunan Kota Makassar di masa jabatannya, tetap menjadi program prioritas pemerintah Kota Makassar.

Diketahui sebelumnya bahwa Insentif ini menjadi polemik dikalangan RT RW. Pasalnya sejak masa jabatan Danny Pomanto berakhir, banyak RT RW mengeluhkan keterlambatan dan pengurangan insentif RT RW saat ini.

Olehnya kini muncu wacana bahwa pemberian insentif Rp1 Juta untuk setiap RT RW menjadi perhatian pemerintah Kota Makassar dalam menyelesaikan polemik.

Menurut salahsatu Ketua RW 3 di Kelurahan Gaddong Kecamatan Bontoala, Dr Anzar Makkuasa SH.MH. Bahwa Insentif yang akan disamakan pembagiannya Rp1 Juta itu bukanlah hal yang baru. Karena pemberian Insentif ini sudah terlaksana pada zaman Wali Kota sebelumnya.

“Soal Insentif Rp 1 Juta sudah sering saya terima, sejak pemerintahan pak Danny Pomanto, jadi itu bukal hal yang baru. Kalau persoalan tugas Indikator dikurangi itu tergantung kebijakan pak Pj Wali Kota.” ujar Anzar, Rabu, (12/2).

Dia mengungkapkan bahwa terjadinya polemik penerimaan insentif RT RW saat ini , terjadi karena PAD Kota Makassar turun.

“Mengenai polemik insentif yang terjadi, menurut yang saya ketahui karena kondisi PAD Kota Makassar menurun sehingga ada indikasi insentif dikurangi,” lanjutnya.

Sebelumnya disalahsatu media Online melalui Kabag Badan Pemberdayaan Masyarakat (BPM) Kota Makassar, Yarman AP berencana akan memberikan Insentif untuk RT RW rata Rp1 Juta.

Hanya saja sembilan indikator atau penilaian kinerja RT RW yang dijalankan selama ini menurut Kabag BPM, Yarman tidak efektif. Terlalu banyak indikator, justru sangat memberatkan RT RW.

Bahkan hal itu telah menimbulkan polemik dikalangan RT RW utamanya dalam penerimaan insentif. Karena insentif mereka diterima bervariasi, namun bobot kerjanya relatif sama.

“Rata-rata RT RW itu hanya bisa penuhi 4 sampai 5 indikator saja. Karena mereka (RT/RW) sangat sulit memenuhi 9 indiktor tersebut. Makanya indikator RT RW ini kita mau sederhanakan saja.”katanya.

“Kalau saya cukup tiga indikator saja, seperti misalnya soal PBB, kebersihan dan administrasi RT RW. Saya kira tiga indikator saja cukup, dan semua insentif RT RW kita ratakan Rp1 juta,” jelas Yarman.

“Kalau insentif RT RW bervariasi, namun kinerjanya relatif sama. Tentu menimbulkan kecemburuan. Dan itu banyak terjadi,” sambungnya.

Silahkan Berkomentar