situs judi bola online

Pesona Hutan Magrove Tongke – Tongke

Pesona Hutan Magrove Tongke - Tongke

Pesona Hutan Magrove Tongke – Tongke – Wisata yang di gemari banyak kalangan karena keindahan yang di milikinya. Ada banyak jenis wisata bahari seperti wisata pulau dan pantai. Namun, ada satu lagi wisata yang menakjubkan tak boleh di lewatkan, yaitu Hutan Mangrove.

Tak hanya di gunakan sebagai tempat wisata, hutan mangrove juga berfungsi sebagai pencegah abrasi pantai dan menjaga ekosistem laut. Sinjai merupakan salah satu daerah di Indonesia yang memiliki wisata hutan mangrove dengan nama Tongke – Tongke yang memiliki pemandangan indah.

Baca juga : Pantai Yang Bikin Candu Di Sulawesi Barat

Taman Hutan Mangrove Tongke – Tongke

Suasana kawasan taman mangrove Tongke – Tongke berlokasi di Desa Tongke – Tongke, Kecamatan Sinjai Timur, Kabupaten Sinjai merupakan taman wisata mangrove andalan Sulawesi Selatan (Sulsel).

Tongke – Tongke merupakan pusat restorasi dan pembelajaran mangrove yang luasnya mencapai 173,5 hektare, terluas dan rapat pohonnya di Indonesia.

Hutan Mangrove yang di kembangkan masyarakat setempat sudah lebih dari 20 tahun dengan ketinggian pohon mangrove sekitar 5 meter dengan kerapatan 0,5 x 0,5 meter, sehingga sangat mendukung menjadi habitat flora dan fauna di kawasan pesisir.

Sedang jenis mangrove yang di swadayakan masyarakat setempat ada tiga jenis yakni jenis bakau Ryzhopora Mucnorata sp, Avicenia sp. dan Nipa fructicans.

Menurut dia, kelebihan wisata mangrove di Sinjai, karena selain dapat menikmati kawasan mangrove yang sejuk, juga terdapat sejumlah fasilitas seperti tracking mangrove permanen sepanjang 250 meter untuk mengamati flora dan fauna di lokasi itu. Termasuk fasilitas shelter, pondok informasi dan cafe terapung.

Flora dan Fauna

Potensi flora dan fauna yang berkembang di kawasan mangrove dan tak kalah menariknya terdapat “photo booth” untuk melakukan selfie.

Adapun fauna yang menjadikan kawasan mangrove Tongke – Tongke ini sebagai habitatnya adalah berbagai macam serangga, ular pohon, kelelawar, burung belibis, burung bangau, termasuk fauna lautan seperti ikan, kepiting bakau, tiram dan udang.

Mencapai lokasi ini dapat telusuri jalan hotmix sekitar lima km dari Kota Sinjai. Di sini juga dapat menikmati pemandangan perkampungan khas nelayan dengan jejeran berbagai jenis perahu nelayan berstandar di pelabuhan rakyat.

Sejarah Desa Tongke – Tongke

Kata Tongke – Tongke dasarnya Toke yang di pakai untuk panggilan pedagang Asal China tinggal di Cempae. Terkenalnya kampung Cempae sebagi tempat singgahnya para toke maka orang sekitar lambat laun menyebut kampung toke menjadi “Tongke – Tongke”. Kampung ini tidak hanya di huni warga China akan tetapi juga ada suku Bugis.

Letak Geografis dan kondisi alamnya yang strategis sehingga tentara Jepang menjadikan Tongke – Tongke menjadi basis pertahanan terutama di daerah Bentengnge oleh tentara Jepang menjadikan pos pertahanan dan membentuk tentara HEIHO, kekalahan Jepang terhadap sekutu sehingga mengungsi ke manipi.

Tahun 1970 Tongke – Tongke di landa kemarau panjang, akibatnya masyarakat pangan dan terpaksa makan ubi kayu dan sagu untuk pertahan hidup.

Di sisi lain kondisi gelombang pasang air semakin tinggi hingga mencapai 30 – 40 cm. Tahun 1980-an, abrasi pantai sangat luar biasa mengakibatkan rumah penduduk banyak yang terancam bahkan ada beberapa rumah yang harus di pindahkan untuk menghindari bencana.

Penyelamatan pantai dengan cara menanam bibit bakau oleh penduduk yang berada di pesisir. Inisiatif tersebut muncul karena upaya perlindungan dengan batu karang tidak berhasil dan melihat lingkungan tetangga yang tidak kena abrasi, terhalang bakau.

Kegiatan penanaman bakau berlangsung hingga tahun 1990. Hasil penanaman tersebut meningkatkan pertumbuhan dengan cukup baik. Pada tahun 1991 terjadi musibah gempa bumi tektonik di pulau flores yang mengancam pemukiman penduduk , bencana tersebut tidak berdampak pada masyarakat Tongke – Tongke karena sebagian rumah warga sudah terlindung oleh hutan bakau.

Exit mobile version